BOJONEGORO || Penarealita.com - Langit masih menyisakan gelap ketika roda-roda bus perlahan bergerak dari halaman Pendopo Malowopati. Namun di antara dingin yang menggantung, ada kehangatan yang tak kasat mata—doa-doa yang dilepas dengan lirih, harapan yang dititipkan tanpa suara.
Sebanyak 432 jemaah haji Bojonegoro yang tergabung dalam kloter 37 dan 38 resmi diberangkatkan menuju asrama haji, Jumat (1/5/2026) dini hari. Ini bukan sekadar perjalanan administratif, melainkan langkah awal menuju panggilan suci yang telah lama dinanti.
Bupati Bojonegoro, Setyo Wahono, memastikan seluruh proses berjalan dalam kendali.
“Ini bukan hanya keberangkatan fisik, tapi perjalanan batin. Kami berharap seluruh jemaah diberi kesehatan, kelancaran, dan pulang dengan kemabruran,” tuturnya.
Di antara ratusan wajah yang berangkat, terselip kisah sederhana yang penuh makna. Salah satu jemaah haji asal Kecamatan Sukosewu, Desa Kalicilik, Ali Imron pasangan wiji Astutik tak mampu menyembunyikan getaran harunya.
“Alhamdulillah, ini panggilan yang sudah lama saya tunggu. Mohon doa dari semuanya agar kami diberi kelancaran, kesehatan, dan bisa menjalankan ibadah dengan khusyuk,” ucapnya dengan mata yang berkaca.
Ia mengaku, perjalanan ini bukan sekadar menunaikan rukun Islam, melainkan juga penyerahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta.
“Kami berangkat membawa harapan keluarga dan doa dari kampung halaman. Semoga bisa pulang membawa keberkahan,” imbuhnya lirih.
Sementara itu, Kepala Kemenag Bojonegoro, Moh. Abdulloh Hafith, menjelaskan bahwa seluruh jemaah telah melalui tahapan persiapan yang matang.
“Kloter 37 dan 38 ini menjadi gelombang awal. Total 432 jemaah diberangkatkan dengan pengawalan dan pelayanan maksimal,” ujarnya.
Sebanyak 11 armada bus mengangkut para tamu Allah ini, mengantar mereka dari tanah kelahiran menuju gerbang perjalanan spiritual yang lebih luas. Di dalamnya, tak hanya koper yang dibawa—tetapi juga doa-doa panjang yang kini menemukan jalannya.
Dari sudut-sudut desa seperti Kalicilik, harapan itu tumbuh sederhana—namun berangkat dengan makna yang tak sederhana. Menuju satu tujuan: pulang dengan jiwa yang lebih utuh.( Ali Sugiono )
Editorial : Redaksi