Home Daerah

GUTANBO 2026, Ribuan Warga Semakin Larut dalam Tembang dan Pagelaran Reog

by Pena Realita - 17 Oktober 2026, 23:25 WIB

BOJONEGORO || Penarealita.com - Malam Minggu di Alun-Alun Bojonegoro kian semarak. Tabuhan gendang yang bertalu-talu, irama gamelan yang menggugah, serta tembang-tembang pengiring pagelaran Reog menyatu dengan riuh antusiasme ribuan warga. Suasana semakin hidup ketika masyarakat larut dalam Gumregah Tani Bojonegoro Festival (GUTANBO) 2026, Sabtu malam (17/10/2026), yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-349.

Kemeriahan tak sekadar hadir melalui pertunjukan di atas panggung. Interaksi antara penampil dan penonton menciptakan suasana kebersamaan yang hangat. Semakin malam, perhatian warga seolah tertambat pada alunan musik, gerak tari, dan kekayaan ekspresi seni tradisional yang mewarnai perayaan tersebut.

Suasana kian semarak ketika Wakil Bupati Bojonegoro, Nurul Azizah, membuka pagelaran dengan menyanyikan lagu Taman Curug. Sambutan hangat penonton berlanjut dengan permintaan lagu Perahu Layar, yang menambah keakraban antara pemimpin daerah dan masyarakat dalam suasana hiburan rakyat.

Dalam sambutannya, Nurul Azizah berharap rangkaian peringatan hari jadi tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menumbuhkan semangat bersama untuk membangun Bojonegoro.

“Semoga masyarakat terhibur dalam rangkaian HJB ke-349. Semoga Bojonegoro menjadi daerah yang betul-betul bahagia, makmur, dan membanggakan,” ujarnya.

Ia juga menyampaikan bahwa pertunjukan Reog turut memeriahkan rangkaian kegiatan. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Bojonegoro, Laela Nur Aini, turut hadir dalam pembukaan pagelaran tersebut.

Di tengah keramaian, Arif Farhan, warga Sukosewu, mengaku senang dapat menikmati festival bersama keluarganya. Menurutnya, pertunjukan seni menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk mengenal kebudayaan daerah melalui pengalaman secara langsung.

“Senang bisa menikmati pagelaran ini bersama keluarga. Anak-anak juga bisa mengenal budaya Bojonegoro secara langsung,” ungkap Farhan.

Selain pagelaran seni, GUTANBO 2026 menghadirkan expo yang mengangkat potensi pertanian daerah. Perpaduan pertanian, kebudayaan, dan hiburan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan lokal sekaligus mendekatkan potensi daerah kepada masyarakat.

Ketika malam semakin larut, kemeriahan tak sekadar dihitung dari riuhnya tepuk tangan, tetapi juga dari kuatnya daya tarik seni tradisi yang menyatukan masyarakat. Tembang-tembang pengiring Reog, tabuhan gamelan, dan gerak para penampil menghadirkan suasana yang menghidupkan kembali kebanggaan terhadap warisan budaya leluhur.

Di bawah langit malam Bojonegoro, masyarakat menikmati setiap rangkaian pertunjukan dalam suasana penuh keakraban. GUTANBO menjadi lebih dari sekadar agenda hiburan: sebuah ruang perjumpaan antara kebudayaan, potensi pertanian, dan kebersamaan warga.

Sebab, kemeriahan sebuah perayaan akan menemukan makna yang lebih dalam ketika seni tidak hanya ditonton, tetapi juga diwariskan; ketika budaya tidak sekadar dipentaskan, tetapi tetap hidup dalam ingatan dan kecintaan generasi penerus.

Malam Minggu pun semakin larut dalam tembang dan irama pagelaran Reog. Di Alun-Alun Bojonegoro, seni tradisi menjadi denyut kebersamaan, mengiringi harapan agar Bojonegoro terus tumbuh sebagai daerah yang bahagia, makmur, dan membanggakan.

Penulis: Mbah Muri 

Share :

Populer Minggu Ini