MADINAH|| Penarealita.com – Pengalaman spiritual yang mendalam dirasakan oleh Ali Imron, seorang jamaah asal Desa Kalicilik, Kecamatan Sukosewu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, saat menunaikan ibadah di Raudhah, Masjid Nabawi.Rabu (6 Mei 2026)
Di tengah padatnya antrean peziarah dan suasana khusyuk yang menyelimuti kawasan Raudhah, Ali Imron menghadapi serangkaian momen yang tak hanya menguji kesabaran, tetapi juga memperlihatkan indahnya kepedulian antarsesama umat Muslim dari berbagai penjuru dunia.
Saat itu, Ali Imron bersama istrinya yang mendorong kursi roda sempat tertahan karena perbedaan jadwal masuk antara jamaah pria dan wanita. Situasi tersebut menjadi ujian awal sebelum akhirnya petugas membuka akses, memberi kesempatan bagi mereka untuk memasuki area yang dikenal sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa.
Dalam kondisi tersebut, sebuah kejadian tak terduga terjadi. Ali Imron yang hendak menyerahkan sandal kepada seseorang di belakangnya, mengira itu adalah istrinya. Namun ternyata, sandal tersebut diterima oleh seorang pria asal Sudan yang dengan sigap membantu melepas dan menyimpannya tanpa diminta.
“Dia tidak banyak bicara, langsung membantu dengan tulus. Bahkan sempat sholat sunnah di samping saya sambil menunggu,” ungkap Ali Imron.
Ketika kesempatan masuk ke Raudhah terbuka, pria tersebut kembali hadir dan turut membantu mendorong kursi roda Ali Imron menembus kerumunan jamaah. Di dalam Raudhah, Ali Imron memanfaatkan momen tersebut untuk berdoa, menunaikan sholat sunnah, hingga mengikuti sholat Isya berjamaah dengan penuh kekhusyukan.
Namun, setelah keluar dari Raudhah, sempat terjadi kesalahpahaman akibat keterbatasan komunikasi bahasa. Pria Sudan itu terlihat cemas karena mengira Ali Imron terpisah dari istrinya. Ia bahkan berinisiatif mencari bantuan dari jamaah lain, termasuk seorang warga asal Bandung, untuk membantu menerjemahkan dan menghubungi sang istri.
Setelah komunikasi berhasil dilakukan dan sang istri tiba di lokasi, suasana pun kembali tenang. Rasa syukur dan terima kasih pun disampaikan berulang kali oleh keluarga Ali Imron kepada pria tersebut.
Yang paling membekas, sebelum berpisah, pria Sudan itu memberikan gestur penuh kehangatan dengan mengecup kening Ali Imron. Tak berhenti di situ, ia bahkan sempat kembali hanya untuk memastikan satu hal sederhana—memberi tahu bahwa sandal telah disimpan di belakang kursi roda.
“Hal kecil, tapi sangat berarti. Di tanah suci, saya merasa tidak hanya menemukan tempat terbaik untuk berdoa, tapi juga menemukan manusia yang menjadi jawaban dari doa itu sendiri,” tutur Ali Imron.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan bahasa, negara, dan latar belakang, nilai kemanusiaan dan keikhlasan tetap menjadi bahasa universal yang menyatukan umat.
Di Tanah Suci, semua sekat seakan luluh. Tidak ada lagi perbedaan status sosial, jabatan, maupun profesi. Semua setara di hadapan Allah SWT, berlomba dalam kebaikan dengan cara-cara sederhana namun penuh makna.
“Barakallah untuk setiap hati yang membantu tanpa diminta,” pungkasnya.
Penulis:Ali imron.