BLORA || Penarealita.com – Pembangunan proyek strategis Sekolah Rakyat (SR) di wilayah Cepu, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, kembali menjadi sorotan. Sejumlah informasi dan temuan di lapangan terkait pekerjaan konstruksi, penggunaan material pedel, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga mekanisme pengawasan proyek tengah didalami.
Sorotan tersebut mencakup dugaan ketidaksesuaian proses pemadatan material pada akses jalan cor, asal-usul material pedel, keberadaan surat jalan material yang mencantumkan nama PT Mutiara Alam Sejahtera Energi (MASE), hingga dugaan keterlibatan pihak tertentu dalam distribusi material dan pasokan BBM untuk alat berat.
Selain itu, aktivitas pekerjaan pada malam hari juga menjadi perhatian, terutama terkait penggunaan perlengkapan keselamatan, keberadaan flagman, serta rambu-rambu pengamanan di sekitar lokasi pekerjaan.
Persoalan tersebut kemudian dikonfirmasikan kepada pihak manajemen melalui Doni yang disebut sebagai manajer.
Dalam konfirmasi tersebut, pihak media meminta penjelasan mengenai kesesuaian metode pemadatan dengan spesifikasi teknis/RKS, sumber dan legalitas material, mekanisme verifikasi surat jalan, penerapan K3, hingga sistem pengawasan mutu pekerjaan.
Namun, hingga konfirmasi dilakukan, Doni belum memberikan jawaban secara tertulis terhadap satu per satu pertanyaan tersebut.
Doni justru menyampaikan kesediaannya untuk memberikan penjelasan secara langsung dan mengajak wartawan bertemu guna membahas berbagai informasi yang berkembang di lapangan.
“Mungkin semua pertanyaan jenengan bisa kami jawab, kalau ada waktu jenengan sempatkan ketemu, Mas. Gak apa-apa, Mas. Kami menyadari banyak hal yang simpang siur di luar. Kami berharap mungkin dengan adanya panjenengan kami bisa memberikan informasi yang ada,” ujar Doni melalui pesan WhatsApp, Senin (21/9/2026).
Menurut Doni, pertemuan secara langsung diharapkan dapat memperjelas informasi yang berkembang sekaligus menjadi sarana komunikasi antara pihak manajemen dengan media.
“Dan mungkin lewat media jenengan nanti bisa disampaikan. Kalau ketemu kita bisa saling kenal, Mas, dan informasi bisa lebih jelas,” lanjutnya.
Delapan Poin Masih Menunggu Jawaban Sebelumnya, sejumlah pertanyaan substantif telah diajukan kepada pihak manajemen.
Pertama, terkait proses pemadatan akses jalan cor. Informasi lapangan menyebutkan pemadatan material pedel diduga hanya menggunakan baby roller. Penggunaan alat seperti Vibro Roller dan Grader juga dipertanyakan, termasuk apakah metode yang digunakan telah sesuai dengan spesifikasi teknis dan RKS.
Kedua, mengenai asal-usul material pedel yang digunakan dalam proyek. Pihak manajemen diminta menjelaskan sumber material sekaligus memastikan seluruh material memiliki dokumen asal-usul dan legalitas yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, terdapat informasi mengenai surat jalan material atas nama PT Mutiara Alam Sejahtera Energi (MASE). Pihak manajemen diminta mengonfirmasi apakah material dengan surat jalan tersebut benar masuk dan digunakan di lokasi proyek serta bagaimana proses verifikasi legalitas sumber materialnya.
Keempat, muncul informasi mengenai dugaan keterlibatan oknum aparat dalam koordinasi distribusi material pedel maupun pasokan BBM solar untuk alat berat. Pertanyaan tersebut juga telah disampaikan kepada manajemen untuk mendapatkan klarifikasi.
Kelima, aspek K3 menjadi sorotan. Aktivitas pekerjaan malam hari diduga berlangsung dengan perlengkapan keselamatan yang belum memadai, sementara keberadaan flagman dan rambu pengamanan juga dipertanyakan.
Keenam, manajemen diminta menjelaskan proses verifikasi material yang disebut berasal dari sejumlah wilayah, antara lain Rengel, Tuban; Sale dan Tahunan, Rembang; Todanan; hingga Grobogan.
Ketujuh, apabila terdapat material yang tidak memenuhi spesifikasi atau tidak jelas asal-usul legalitasnya, manajemen diminta menjelaskan pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan pemeriksaan serta menentukan apakah material tersebut diterima atau ditolak.
Kedelapan, manajemen diminta menjelaskan sistem pengawasan dan pengendalian mutu agar pekerjaan sesuai dengan kontrak, spesifikasi teknis, serta ketentuan K3.
Jangan Berhenti pada Jawaban Normatif
Sorotan terhadap proyek strategis seperti Sekolah Rakyat tidak semestinya berhenti pada jawaban normatif. Setiap persoalan menyangkut material, mutu pekerjaan, keselamatan pekerja, dan kepatuhan terhadap ketentuan proyek perlu dapat dijelaskan berdasarkan dokumen maupun kondisi faktual di lapangan.
Kesediaan manajemen untuk memberikan klarifikasi secara langsung patut menjadi ruang bagi semua pihak untuk menjelaskan persoalan secara terbuka.
Namun demikian, pertemuan tersebut juga penting diarahkan untuk menjawab substansi pertanyaan yang telah disampaikan, bukan sekadar membantah informasi secara umum.
Pihak manajemen tetap diberikan ruang untuk menjelaskan apakah temuan yang dipersoalkan benar terjadi, bagaimana prosedur yang diterapkan, serta langkah korektif apabila memang ditemukan ketidaksesuaian.
Dengan demikian, informasi mengenai pembangunan Sekolah Rakyat di Cepu tidak berkembang menjadi simpang siur, melainkan dapat diuji berdasarkan fakta lapangan, dokumen proyek, spesifikasi teknis, serta keterangan resmi pihak-pihak yang berwenang.
Hingga berita ini disusun, pihak manajemen melalui Doni telah menyatakan kesediaannya memberikan penjelasan lebih lanjut melalui pertemuan langsung. Jawaban substantif atas sejumlah pertanyaan terkait material, pemadatan, K3, dugaan keterlibatan pihak tertentu, dan pengawasan proyek masih dinantikan.( Red )
Editorial : Redaksi